manfredodicrescenzo –Militer Thailand menyatakan kesiapan penuh menghadapi potensi eskalasi konflik dengan Kamboja di wilayah perbatasan. Ketegangan meningkat tajam setelah terjadi bentrokan mematikan pekan lalu, yang memicu respons tegas dari pihak militer.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis malam (5 Juni 2025), pihak militer mengumumkan rencana peluncuran “operasi tingkat tinggi” untuk mempertahankan kedaulatan negara. Mereka juga menyebut adanya peningkatan aktivitas militer Kamboja di sepanjang garis perbatasan. Berdasarkan laporan intelijen Thailand, langkah militer Kamboja tersebut dinilai sebagai perkembangan yang “mengkhawatirkan”.
Situasi ini mendorong Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, untuk menggelar rapat mendesak Dewan Keamanan Nasional pada Jumat. Dalam keterangannya yang dikutip oleh CNA, ia menegaskan bahwa Thailand tidak menginginkan konfrontasi bersenjata namun tetap siap menghadapi segala skenario. “Militer telah menegaskan kesiapan untuk menghadapi skenario apa pun,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap mengedepankan jalur damai karena bentrokan hanya akan membawa kerugian di kedua belah pihak.
Peningkatan ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung, termasuk pertemuan bilateral tingkat tinggi yang dijadwalkan akhir bulan ini. Sejumlah analis militer regional memperingatkan bahwa gesekan seperti ini berpotensi mengganggu stabilitas Asia Tenggara, terutama jika tidak ditangani secara strategis dan hati-hati.
“Simak juga: UFC Musim Panas Penuh Drama,Mundurnya Dua Bintang Besar“ [5]
Ke depan, pemerintah Thailand menyatakan akan terus memantau perkembangan di garis perbatasan, sembari membuka ruang dialog dengan Kamboja. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas dan keamanan jangka panjang di kawasan yang telah lama menjadi titik rawan sengketa.
Ketegangan Thailand-Kamboja Memuncak Usai Insiden Mematikan di Perbatasan 28 Mei 2025
Hubungan Thailand dan Kamboja kembali diuji menyusul insiden baku tembak di wilayah perbatasan yang belum ditentukan secara jelas. Kejadian pada 28 Mei 2025 itu menyebabkan satu tentara Kamboja tewas dan memicu respons tegas dari militer Thailand.
Militer Thailand menyatakan siap melancarkan operasi tingkat tinggi jika dibutuhkan. Namun, mereka menekankan operasi dilakukan dengan hati-hati dan memahami risiko agar tidak menimbulkan kerugian lebih besar. “Kami siap mempertahankan kedaulatan negara jika situasi menuntut,” tegas pernyataan militer pada 6 Juni.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Kamboja, Chum Sounry, menuduh militer Thailand menembaki desa yang telah lama dianggap sebagai pos resmi militer Kamboja. Ia menyebut tindakan tersebut melanggar kedaulatan Kamboja serta nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada 2000. Namun, pihak Thailand membantah klaim tersebut.
Ketegangan ini muncul di tengah hubungan bilateral yang sebenarnya cukup hangat. Kedekatan antara dua mantan pemimpin, Thaksin Shinawatra dan Hun Sen, sebelumnya turut mencairkan hubungan kedua negara. Kini, anak mereka memimpin sebagai perdana menteri di masing-masing negara.
Namun, situasi politik dalam negeri Thailand tengah rapuh. Pemerintah Partai Pheu Thai menghadapi tekanan ekonomi, potensi tarif dari AS, serta penundaan program bantuan sosial. Ini berisiko menurunkan popularitas publik mereka. Hubungan historis yang rumit antara keluarga Shinawatra dan militer Thailand juga menambah dinamika dalam penanganan isu perbatasan ini.
“Baca juga:Mengapa Kominfo Bisa Memutuskan untuk Memblokir Starlink?” [2]
Panglima Angkatan Bersenjata Thailand, Jenderal Songwit Noonpackdee, menegaskan bahwa militer mendukung solusi damai. Menteri Pertahanan Thailand, Phumtham Wechayachai, juga menyatakan telah mengusulkan kepada Menhan Kamboja, Thia Saya, agar kedua pihak mundur ke garis demarkasi 2024.





Leave a Reply