manfredodicrescenzo –Ketegangan diplomatik antara Thailand dan Kamboja meningkat tajam setelah insiden ranjau darat di perbatasan yang masih disengketakan. Seorang tentara Thailand terluka akibat ledakan ranjau baru yang tidak pernah terdeteksi dalam patroli sebelumnya. Menanggapi hal tersebut, pemerintah Thailand mengambil langkah tegas dengan menurunkan tingkat hubungan diplomatik dan menarik duta besarnya dari Kamboja.
Partai berkuasa Thailand, Pheu Thai, mengumumkan langkah ini melalui pernyataan resmi di media sosial pada Rabu (23/7/2025). Mereka juga menyebut bahwa Thailand telah mengajukan protes diplomatik kepada pemerintah Kamboja. Menurut mereka, keberadaan ranjau baru tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap norma-norma kemanusiaan dan perbatasan yang belum sepenuhnya disepakati.
“Thailand telah menurunkan tingkat hubungan diplomatik dengan Kamboja,” ujar Pheu Thai dalam unggahan yang dikutip dari CNA. Selain itu, Penjabat Perdana Menteri Phumtham Wechayachai menambahkan bahwa pemerintah sedang mengevaluasi ulang seluruh kerja sama lintas negara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa pihaknya belum mendapat balasan resmi dari Kamboja terkait penarikan atau pengusiran duta besar. Namun, untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, Thailand memutuskan menutup seluruh pos pemeriksaan perbatasan yang berada di bawah yurisdiksi nasionalnya. Wisatawan juga dilarang melintas hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
“Baca: Jejak Mengagumkan Michael Owen, Seorang Bomber Sangar di Masa Kecilnya” [3]
Langkah tegas ini menandai titik kritis dalam hubungan bilateral kedua negara. Dengan sejarah perbatasan yang panjang dan rawan konflik, komunitas internasional kini menaruh perhatian terhadap upaya diplomatik lanjutan. Penyelesaian damai melalui jalur diplomatik dinilai sangat penting untuk mencegah krisis kemanusiaan dan gangguan stabilitas kawasan ASEAN.
Thailand Kecam Kamboja atas Dugaan Pelanggaran Hukum Internasional Terkait Ranjau Darat
Hubungan diplomatik antara Thailand dan Kamboja kian memburuk menyusul insiden ledakan ranjau darat di perbatasan kedua negara. Seorang tentara Thailand mengalami luka serius dan kehilangan kaki kanannya dalam insiden yang terjadi pada Rabu (16/7) di Provinsi Ubon Ratchathani, dekat area perbatasan Chong Bok.
Pemerintah Thailand menuding Kamboja telah menanam ranjau darat anti-personel baru, yang dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan wilayahnya. Pernyataan resmi tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, pada Minggu (20/7), merespons temuan otoritas militer bahwa ranjau tersebut bukan bagian dari persenjataan Thailand.
Kamboja membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataan pada Senin (21/7), pemerintah Kamboja menegaskan bahwa tentara Thailand telah memasuki wilayahnya dan menyimpang dari jalur patroli bersama. Kamboja mengklaim ranjau yang meledak merupakan peninggalan lama yang belum dijinakkan, bukan ranjau baru yang sengaja ditanam.
Konflik perbatasan ini juga memicu ketegangan antara tokoh politik senior kedua negara. Mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, menyatakan menolak untuk berkomunikasi dengan mantan PM Thailand, Thaksin Shinawatra. Sebelumnya, pada 28 Mei, bentrokan bersenjata antara militer kedua negara di dekat kawasan Segitiga Zamrud (Mom Bei) menewaskan seorang tentara Kamboja.
Ketegangan berkelanjutan telah mendorong kedua negara menambah pasukan di sepanjang perbatasan. Pemerintah Thailand bahkan telah menutup beberapa jalur perlintasan dan memperketat aktivitas lintas batas. Komunitas internasional mendesak penyelesaian damai dan investigasi independen guna menghindari eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan ASEAN.
“Simak: Perjalan Penuh Tembakau Sampai Industri Rokok” [5]





Leave a Reply