manfredodicrescenzo – Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan perluasan persenjataan nuklirnya. Opsi tersebut mencakup kemungkinan melanjutkan uji coba nuklir bawah tanah. Laporan ini disampaikan oleh New York Times pada Senin, 9 Februari 2026. Perkembangan ini terjadi setelah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata New START antara AS dan Rusia.
“Baca Juga: Produksi Smartphone 2026 Diprediksi Anjlok”
New START selama ini membatasi jumlah hulu ledak strategis yang dikerahkan kedua negara. Batas tersebut berada di kisaran 1.550 hulu ledak. Dengan berakhirnya perjanjian, ruang kebijakan baru terbuka bagi kedua pihak. Situasi ini memicu perhatian komunitas internasional.
Pernyataan sejumlah pejabat senior menunjukkan Washington sedang meninjau berbagai opsi strategis. Langkah ini dinilai berpotensi mengubah kebijakan pengendalian senjata yang telah berjalan selama beberapa dekade.
Opsi Penambahan Hulu Ledak dan Reaktivasi Kapal Selam
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa AS mempertimbangkan pengerahan senjata nuklir tambahan. Salah satu opsi melibatkan pengaktifan kembali tabung rudal pada kapal selam kelas Ohio. Tabung tersebut sebelumnya dinonaktifkan untuk mematuhi batasan perjanjian.
Reaktivasi tersebut memungkinkan penempatan rudal bersenjata nuklir tambahan di laut. Langkah ini akan memperkuat kemampuan pencegahan strategis. Namun kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan ketegangan global.
Thomas DiNanno, wakil menteri luar negeri untuk pengendalian senjata dan keamanan internasional, menyatakan bahwa perjanjian yang telah berakhir memberi “kendala sepihak” pada Washington. Ia menegaskan bahwa AS kini bebas memperkuat pencegahan nuklirnya.
Penolakan Perpanjangan dan Potensi Negosiasi Baru
Menurut laporan, Presiden AS menolak perpanjangan informal yang diusulkan Presiden Rusia Vladimir Putin. Meski demikian, kedua negara disebut masih mempertimbangkan negosiasi perjanjian pengganti. Proses tersebut belum memiliki kepastian waktu.
Berakhirnya New START menciptakan kekosongan dalam mekanisme pembatasan formal. Tanpa kerangka pengendalian baru, risiko eskalasi meningkat. Para analis menilai situasi ini memerlukan dialog diplomatik yang intensif.
Sebagian pengamat melihat langkah AS sebagai strategi tekanan. Tujuannya diduga untuk mendorong Rusia dan China ke meja perundingan. Namun pendekatan tersebut tetap memicu perdebatan di kalangan pakar keamanan.
Perdebatan Soal Uji Coba Nuklir Bawah Tanah
DiNanno juga membahas kemungkinan melanjutkan uji coba nuklir. Ia merujuk pada seruan sebelumnya untuk melakukan uji coba “atas dasar kesetaraan”. Pernyataan tersebut mengisyaratkan respons terhadap dugaan aktivitas negara lain.
Ia menyebut Rusia dan China mungkin telah melakukan uji coba skala kecil yang sulit dideteksi. Termasuk dugaan uji coba oleh Tiongkok pada 2020. Namun jaringan pemantauan internasional saat itu tidak melaporkan deteksi resmi.
Isu ini menambah kompleksitas situasi pengendalian senjata global. Uji coba nuklir memiliki implikasi diplomatik dan keamanan yang luas. Komunitas internasional umumnya mendorong penahanan diri dalam isu ini.
“Baca Juga: Note 60 Pro Siap Meluncur dari Infinix”
Risiko Eskalasi dan Ketidakpastian Global
Sebagian ahli memperingatkan bahwa langkah-langkah tersebut dapat memicu perlombaan senjata baru. Tanpa perjanjian pembatasan, setiap negara berpotensi meningkatkan kapasitasnya. Situasi ini berisiko memperburuk stabilitas strategis global.
Namun ada pula yang menilai langkah tersebut sebagai alat negosiasi. Tekanan militer kadang digunakan untuk membuka ruang diplomasi. Hasil akhirnya akan sangat bergantung pada respons Rusia dan China.
Perkembangan ini menunjukkan dinamika baru dalam keamanan global. Dengan berakhirnya New START, masa depan pengendalian senjata nuklir kembali menjadi isu sentral. Dialog diplomatik dan transparansi akan menjadi kunci dalam mencegah eskalasi lebih lanjut.





Leave a Reply