manfredodicrescenzo – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Oman. Ancaman tersebut muncul ketika Oman terlibat dalam pembicaraan dengan Iran mengenai Selat Hormuz.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan Fox News pada Senin, 17 Agustus 2026. Ia memperingatkan Oman agar tidak mengganggu upaya Washington dalam menangani Iran dan jalur pelayaran strategis tersebut.
Trump mengatakan Washington tidak menginginkan Oman menghalangi proses yang sedang berlangsung. Ia kemudian mengeluarkan ancaman keras terhadap negara tersebut jika dianggap mengganggu kepentingan Amerika Serikat.
“Baca Juga: Harga Memori DDR4 Diprediksi Melonjak hingga 50 Persen”
Pernyataan Trump muncul pada hari berakhirnya periode 60 hari dalam nota kesepahaman Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut sebelumnya membuka ruang untuk perundingan lanjutan antara kedua pihak.
Oman Berperan dalam Pembicaraan Mengenai Selat Hormuz
Oman selama ini memosisikan diri sebagai negara netral dalam konflik Iran dan Amerika Serikat. Negara tersebut kemudian memainkan peran penting dalam pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pada 15 Agustus, Iran menyatakan telah mencapai pemahaman dengan Oman mengenai peta rute pelayaran. Pembahasan teknis tersebut berlangsung selama beberapa minggu sebelum kedua pihak mencapai kemajuan.
Rencana tersebut berkaitan dengan pengaturan jalur kapal yang melewati Selat Hormuz. Iran dan Oman masih perlu menyelesaikan sejumlah detail sebelum kesepakatan dapat diumumkan secara lengkap.
Pada 17 Agustus, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembahasan masih berlangsung. Ia menyebut kedua pihak ingin menyelesaikan peta rute dan pernyataan bersama sebagai satu paket.
Peran Oman menjadi semakin penting karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi. Jalur tersebut menjadi bagian utama dari pembahasan antara Iran dan Amerika Serikat.
Trump Klaim Memiliki Jalur Komunikasi dengan IRGC
Dalam wawancara yang sama, Trump mengatakan Washington memiliki jalur komunikasi tidak resmi dengan IRGC. Ia mengklaim pejabat Amerika Serikat berbicara langsung dengan sejumlah pejabat organisasi tersebut.
Trump menyebut komunikasi tersebut sebagai backchannel dalam upaya berhubungan dengan Iran. Pernyataan itu kemudian dibantah oleh IRGC dan sejumlah pejabat Iran.
IRGC menyatakan tidak ada pembicaraan langsung dengan pejabat Amerika Serikat. Juru bicara organisasi tersebut menolak klaim Trump mengenai komunikasi tersebut.
Trump juga meminta Iran mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah. Ia menggambarkan Teheran sebagai lawan yang mampu bernegosiasi, tetapi sedang menghadapi tekanan berat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan Washington terhadap Teheran masih menggunakan tekanan politik dan ekonomi. Pada saat yang sama, jalur komunikasi tidak resmi disebut tetap menjadi bagian dari upaya Amerika Serikat.
Batas Waktu MoU 60 Hari Berakhir Tanpa Kesepakatan Baru
Nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat ditandatangani pada Juni melalui proses yang melibatkan Pakistan. Kesepakatan tersebut memberikan periode 60 hari untuk pembicaraan menuju kesepakatan akhir.
Periode tersebut berakhir pada 17 Agustus tanpa tercapainya kesepakatan lanjutan. Ketentuan utama dalam kesepakatan sebelumnya juga tidak sepenuhnya terlaksana.
Pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan utama dalam proses tersebut. Washington menginginkan akses pelayaran sebelum mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Sementara itu, Iran mengaitkan pembukaan selat dengan pemenuhan sejumlah tuntutan terhadap Amerika Serikat. Perbedaan posisi tersebut membuat proses negosiasi mengalami kebuntuan.
Kondisi tersebut kemudian meningkatkan tekanan terhadap Oman. Negara tersebut harus menjalankan perannya sebagai mediator tanpa kehilangan posisinya sebagai pihak netral.
“Baca Juga: Xbox X25 Bocor, Rilis 20 Oktober dengan Harga $79,99″
Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Utama Perselisihan
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut.
Sejak konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat pada Februari, aktivitas pelayaran melalui selat mengalami gangguan besar. Arus perdagangan energi melalui jalur tersebut juga turun secara signifikan.
Perbedaan pandangan mengenai pembukaan selat kini menjadi bagian utama perselisihan. Iran dan Oman terus membahas kemungkinan pengaturan rute pelayaran. Namun, Washington memiliki tuntutan berbeda mengenai mekanisme pembukaan jalur tersebut.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil pembicaraan Iran dan Oman. Negosiasi tersebut juga perlu mempertimbangkan tuntutan Amerika Serikat mengenai akses pelayaran.
Untuk saat ini, ancaman Trump menambah tekanan terhadap proses diplomasi yang sudah berjalan sulit. Oman tetap berupaya menjalankan perannya dalam pembahasan Selat Hormuz. Masa depan jalur strategis tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat.





Leave a Reply