manfredodicrescenzo – Kondisi internal Ubisoft dilaporkan semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Gelombang pemutusan hubungan kerja yang berulang, pembatalan sejumlah proyek game, serta penutupan beberapa studio telah menggerus kepercayaan karyawan. Banyak pegawai merasa arah perusahaan semakin tidak menentu dan penuh ketidakpastian. Situasi tersebut memicu ketegangan yang meluas di berbagai divisi. Karyawan menilai manajemen gagal memberikan rasa aman dan visi jangka panjang yang jelas. Akumulasi kebijakan ini membuat suasana kerja menjadi panas dan penuh keresahan. Kondisi tersebut kini berkembang menjadi krisis kepercayaan yang terbuka.
“Baca Juga: Take-Two Tegaskan Jadwal Peluncuran GTA 6 Aman”
Serikat Pekerja Nilai Kepemimpinan Yves Guillemot Jadi Hambatan
Perwakilan serikat pekerja Ubisoft secara terbuka menyebut kepemimpinan Yves Guillemot sebagai hambatan utama pemulihan kepercayaan karyawan. Dalam wawancara dengan Game Developer, Marc Rutschlé dan Chakib Mataoui dari Solidaires Informatique menyatakan bahwa suasana internal perusahaan sangat memanas. Mereka menggambarkan banyak karyawan berada dalam kondisi panik dan marah. Perasaan tersebut muncul setelah serangkaian keputusan yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan manajemen. Serikat pekerja menilai hampir mustahil membangun kembali kepercayaan selama Guillemot masih memimpin perusahaan. Pernyataan ini menandai eskalasi konflik antara karyawan dan manajemen puncak.
Tanggung Jawab CEO dan Bayang-Bayang Masalah Lama
Marc Rutschlé menegaskan bahwa ia tidak sepenuhnya menyalahkan Guillemot atas seluruh persoalan Ubisoft. Namun, sebagai CEO, Guillemot tetap dianggap pihak paling bertanggung jawab. Rutschlé menyebut bahwa keputusan strategis sering kali hanya disetujui oleh lingkaran terdekat tanpa perdebatan berarti. Ia juga mengaitkan pola tersebut dengan penanganan skandal pelecehan seksual yang mencuat pada 2020. Menurutnya, masalah struktural di tingkat kepemimpinan sudah berlangsung lama. Karyawan menilai kesalahan yang sama terus berulang tanpa pembelajaran yang nyata. Hal ini memperkuat anggapan bahwa perubahan kepemimpinan diperlukan untuk memulihkan kepercayaan internal.
Kritik Terbuka Karyawan dan Program Efisiensi Jangka Panjang
Kritik terhadap Guillemot juga muncul di platform komunikasi internal Ubisoft bernama Agora. Sejumlah karyawan mempertanyakan alasan Guillemot masih memimpin di tengah rencana efisiensi biaya besar-besaran. Ubisoft diperkirakan akan menjalani total lima tahun pengurangan karyawan hingga target penghematan 500 juta euro tercapai pada 2028. Kebijakan jangka panjang ini menimbulkan kecemasan berkepanjangan di kalangan pegawai. Ketika ditanya apakah ia menginginkan pergantian pemimpin, Rutschlé menyatakan telah kehilangan harapan terhadap Guillemot. Pernyataan tersebut mencerminkan tingkat keputusasaan yang dirasakan sebagian karyawan. Kondisi ini menunjukkan jarak yang semakin lebar antara manajemen dan tenaga kerja.
“Baca Juga: Lenovo Siapkan Legion Y700 2026 untuk Rilis”
Tuduhan Nepotisme dan Dampaknya pada Kreativitas Ubisoft
Pandangan kritis juga disampaikan oleh Chakib Mataoui terkait keputusan Guillemot menunjuk putranya, Charlie Guillemot, sebagai co-CEO di anak perusahaan baru. Menurut Mataoui, persoalan ini bukan sekadar nepotisme. Ia menilai kebiasaan mengangkat orang-orang terdekat telah merugikan kreativitas perusahaan. Ubisoft dianggap semakin sulit melahirkan game yang benar-benar inovatif dan meledak di pasar. Mataoui menyoroti kurangnya keragaman sudut pandang di tingkat pengambilan keputusan. Industri kreatif, menurutnya, membutuhkan ide segar dan perspektif baru. Tanpa perubahan pola pikir di pucuk pimpinan, Ubisoft dikhawatirkan akan terus kehilangan daya saing. Situasi ini menempatkan perusahaan pada persimpangan penting antara perubahan atau stagnasi.





Leave a Reply