manfredodicrescenzo – Indonesia mencatat tonggak sejarah baru dalam industri digital dengan meluncurkan Indonesia Game Rating System (IGRS) — sistem klasifikasi usia game pertama yang dikembangkan secara mandiri di Asia Tenggara. Peluncuran IGRS dilakukan pada ajang Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2025 di Bali, dan diprakarsai langsung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Langkah ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, terutama bagi anak-anak dan remaja yang menjadi konsumen utama industri game.
“Baca Juga: Instagram Luncurkan Fitur Map di Indonesia, Bisa Lacak Teman”
APA ITU IGRS DAN BAGAIMANA MEKANISME PENERAPANNYA?
IGRS atau Indonesia Game Rating System adalah sistem klasifikasi usia resmi untuk game yang bertujuan memberikan panduan bagi orang tua dan pengguna dalam memilih game yang sesuai dengan umur. Sistem ini mulai berlaku wajib pada Januari 2026 untuk semua pengembang dan penerbit game yang beroperasi di Indonesia.
Ada lima kategori usia yang ditetapkan:
- 3+ (semua usia)
- 7+ (anak-anak)
- 13+ (remaja awal)
- 15+ (remaja)
- 18+ (dewasa)
Melalui sistem ini, game yang beredar harus menampilkan label rating secara jelas pada kemasan atau laman digital. Menurut Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, IGRS dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap kontrol konten digital yang lebih bertanggung jawab. “Dengan IGRS, orang tua memiliki panduan yang jelas untuk menentukan game yang pantas dimainkan oleh anak-anak mereka,” ujarnya saat peluncuran di Bali.
INDONESIA JADI PELAPOR REGULASI GAME MANDIRI DI KAWASAN
Peluncuran IGRS menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki sistem rating game independen. Sebelumnya, banyak negara di kawasan masih mengandalkan sistem rating dari lembaga luar seperti ESRB (Amerika Serikat) atau PEGI (Eropa).
Inisiatif ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin regional dalam tata kelola industri digital. Langkah ini juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat industri game lokal yang mengalami pertumbuhan pesat. Berdasarkan data dari Statista, nilai pasar game Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari USD 2 miliar pada 2025.
PENGEMBANG WAJIB LAKUKAN SELF-ASSESSMENT SEBELUM RILIS GAME
Sistem IGRS mewajibkan pengembang game untuk melakukan self-assessment terhadap konten game yang mereka buat sebelum merilisnya ke publik. Penilaian ini kemudian diverifikasi oleh Komdigi untuk memastikan bahwa rating yang diberikan sesuai dengan isi game secara aktual.
Proses verifikasi dilakukan secara berkala, dan melibatkan analisis terhadap elemen dalam game seperti kekerasan, bahasa kasar, konten seksual, serta referensi narkoba atau alkohol. Jika ditemukan ketidaksesuaian antara rating dan konten, Komdigi berwenang memberi sanksi. “Jika pengembang terbukti memberikan rating yang tidak sesuai, kami bisa menaikkan rating atau bahkan menurunkan game dari platform,” tegas Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah.
SANKSI TEGAS MENANTI PENGEMBANG YANG TIDAK PATUH
Pemerintah tidak hanya menghadirkan sistem klasifikasi, tetapi juga menyiapkan mekanisme sanksi yang tegas bagi pelanggar. Game yang terbukti mengandung konten sensitif namun diberi rating usia rendah akan dikenai penalti administratif. Dalam kasus berat, game tersebut dapat ditarik dari peredaran secara nasional.
Komdigi juga mendorong kolaborasi antara pengembang, platform distribusi game, dan komunitas untuk terus menyempurnakan sistem ini. “Tujuan kami bukan membatasi, tapi melindungi. Kami ingin industri game tumbuh sehat, kreatif, dan bertanggung jawab,” tambah Edwin.
“Baca Juga: Apple Siap Luncurkan iPhone Lipat pada 2026, Prediksi Terbaru”
PENUTUP: IGRS JADI LANDASAN MENUJU INDUSTRI GAME NASIONAL YANG AMAN DAN BERKELANJUTAN
IGRS bukan hanya sistem rating, tetapi bagian dari upaya strategis untuk menciptakan ekosistem game yang sehat di Indonesia. Sistem ini hadir sebagai jembatan antara pertumbuhan industri kreatif dan kebutuhan masyarakat akan ruang digital yang aman bagi generasi muda. Dengan keterlibatan pengembang lokal dan pengawasan ketat dari pemerintah, Indonesia bersiap menjadi model dalam tata kelola industri game di kawasan.
Langkah ini juga diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat inovasi digital di Asia Tenggara.





Leave a Reply