manfredodicrescenzo – Indonesia pernah menjadi rumah bagi badak jawa dan badak sumatra yang berkeliaran bebas di hutan tropisnya. Kini, suara langkah mereka semakin jarang terdengar. Populasi kedua spesies ikonik ini menurun drastis dan menghadapi ancaman kepunahan yang serius. Badak sumatra mengalami masalah reproduksi parah. Lebih dari 70 persen badak hasil penyelamatan pada 1980-1990 mengalami gangguan organ reproduksi. Banyak badak betina yang mengalami tumor sehingga sulit hamil dan melahirkan.
“Baca Juga: Xiaomi Luncurkan Walkie-Talkie Digital Jarak Jauh”
Sementara itu, badak jawa memiliki populasi yang relatif stabil di Taman Nasional Ujung Kulon. Namun, keragaman genetiknya sangat rendah. Tim peneliti IPB University menemukan hanya ada dua haplotipe genetik badak jawa. Kondisi ini meningkatkan risiko kepunahan dalam waktu 50 tahun jika tidak ada tindakan konservasi. Penurunan genetika menyebabkan spesies ini sangat rentan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan.
Muhammad Agil, pakar Assisted Reproductive Technology (ART) dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB, menegaskan bahwa intervensi ilmiah sangat dibutuhkan. Kondisi kritis ini menjadi peringatan untuk segera melakukan langkah-langkah inovatif agar keberadaan badak tetap terjaga. Perjuangan untuk menyelamatkan badak bukan hanya soal mempertahankan jumlah, tapi juga memastikan kualitas genetik agar populasi dapat bertahan lama.
Teknologi ART dan Biobank: Harapan Baru dalam Konservasi Badak Indonesia
Menghadapi krisis ini, pemerintah Indonesia meluncurkan Aksi Darurat Konservasi pada 2018, dengan fokus memanfaatkan teknologi ART dan biobank. Teknologi ART memungkinkan proses reproduksi buatan seperti inseminasi buatan, fertilisasi in vitro, dan transfer embrio. Teknologi ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan reproduksi badak yang sulit berkembang biak secara alami.
Tim IPB University di bawah pimpinan Muhammad Agil sedang mengumpulkan sperma, sel telur, dan sel kulit badak sumatra. Selanjutnya, mereka mengembangkan sel punca (stem cell) dan gamet buatan. Langkah ini bertujuan tidak hanya meningkatkan jumlah badak, tetapi juga memperluas variasi genetik yang sangat terbatas.
Kerja sama internasional menjadi kunci keberhasilan. IPB bekerja sama dengan Osaka University dan beberapa museum Eropa, seperti di Berlin, Copenhagen, dan Brussel. Mereka mengakses material genetik badak dari frozen zoo yang telah disimpan bertahun-tahun. Material genetik ini sangat penting untuk program konservasi dan reproduksi masa depan.
“Baca Juga: Audacity 4 Hadir dengan Tampilan dan Logo Baru”
Pusat ART dan Biobank yang sedang dibangun di IPB University akan menjadi pusat konservasi berbasis teknologi di Indonesia. Biobank berfungsi sebagai gudang kehidupan yang menyimpan sel dan jaringan berbagai spesies langka. Dengan kolaborasi erat antara ilmuwan, pemerintah, dan komunitas global, Indonesia berpotensi menjadi pelopor dalam penyelamatan satwa endemik melalui bioteknologi.
Muhammad Agil menegaskan bahwa tujuan utama adalah memastikan suara badak tetap terdengar di hutan Indonesia. Jika berhasil, teknologi bukan hanya alat modern, tapi jembatan penghubung masa lalu dan masa depan. Inovasi ini akan menjaga agar badak, salah satu makhluk tertua di bumi, tetap hidup dan berperan dalam ekosistem Nusantara.





Leave a Reply