manfredodicrescenzo – Data dari sejumlah perusahaan pemantau blockchain mengungkap lonjakan besar kejahatan siber di industri kripto sepanjang 2025. Total aset kripto yang dicuri mencapai 2,7 miliar dolar AS atau setara Rp45,2 triliun. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi dalam sejarah industri kripto global. Nilai ini melampaui kerugian pada tahun-tahun sebelumnya. Tren tersebut menunjukkan eskalasi serius ancaman keamanan digital.
“Baca Juga: VinFast Optimistis Pangsa Pasar Mobil Listrik RI 20 Persen”
Aksi pencurian kembali menargetkan berbagai entitas kripto. Bursa terpusat, proyek web3, hingga layanan keuangan terdesentralisasi menjadi sasaran utama. Pola peretasan tidak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, skala kerugian yang ditimbulkan jauh lebih besar. Situasi ini memperkuat kekhawatiran terhadap ketahanan ekosistem kripto.
Peretasan Bybit Jadi Insiden Terbesar dalam Sejarah Kripto
Insiden peretasan terbesar tahun ini menimpa bursa kripto Bybit yang berbasis di Dubai. Dalam serangan tersebut, peretas berhasil mencuri sekitar 1,4 miliar dolar AS aset kripto. Skala pencurian ini langsung mencetak rekor baru. Peristiwa tersebut disebut sebagai perampokan kripto terbesar sepanjang masa. Bahkan, kasus ini digolongkan sebagai salah satu kejahatan finansial terbesar dalam sejarah manusia.
Perusahaan analisis blockchain bersama FBI menuding kelompok peretas yang didukung pemerintah Korea Utara sebagai dalang. Kelompok ini dikenal sebagai aktor paling aktif dalam serangan kripto global. Mereka telah berulang kali membobol sistem bursa dan protokol besar. Reputasi mereka dibangun dari keberhasilan mengeksekusi peretasan berskala masif. Kasus Bybit memperkuat posisi mereka sebagai ancaman utama industri.
Perbandingan dengan Kasus Peretasan Besar Sebelumnya
Sebelum peretasan Bybit, rekor pencurian kripto jauh lebih rendah. Pada 2022, peretasan Ronin Network menyebabkan kerugian sekitar 624 juta dolar AS. Di tahun yang sama, Poly Network mengalami pencurian senilai 611 juta dolar AS. Kedua insiden tersebut sebelumnya dianggap sebagai kasus ekstrem. Namun, nilai tersebut kini jauh terlampaui.
Lonjakan nilai pencurian menunjukkan perubahan signifikan dalam kapasitas serangan peretas. Target yang disasar semakin besar dan kompleks. Sistem keamanan kripto dinilai belum berkembang sebanding dengan nilai aset yang dilindungi. Kondisi ini membuka celah besar bagi aktor jahat. Industri menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan pertahanan digital.
Data Chainalysis, TRM Labs, dan De.Fi soal Total Kerugian
TechCrunch melaporkan estimasi kerugian dari beberapa perusahaan pemantau kripto. Chainalysis dan TRM Labs sama-sama memperkirakan total kerugian mencapai 2,7 miliar dolar AS sepanjang 2025. Chainalysis juga mencatat sekitar 700 ribu dolar AS dicuri langsung dari dompet kripto individu. Angka ini menunjukkan risiko tidak hanya menimpa institusi besar.
Estimasi serupa disampaikan oleh De.Fi, perusahaan keamanan web3. De.Fi mengelola basis data REKT yang mendokumentasikan kasus pencurian kripto. Menurut catatan mereka, total kerugian sepanjang tahun juga mencapai 2,7 miliar dolar AS. Kesamaan data dari berbagai sumber memperkuat validitas estimasi tersebut. Industri kini menghadapi bukti konkret eskalasi kejahatan siber.
“Baca Juga: Marvel Rivals Siapkan Rencana Besar untuk Konten Tahun 2026″
Dominasi Peretas Korea Utara dan Ancaman ke Depan
Kelompok peretas yang diduga berasal dari Korea Utara kembali menjadi aktor paling dominan. Sepanjang 2025, mereka disebut mencuri sedikitnya 2 miliar dolar AS aset kripto. Menurut Chainalysis dan Elliptic, sejak 2017 total pencurian mereka mencapai sekitar 6 miliar dolar AS. Dana tersebut diyakini digunakan untuk membiayai program senjata nuklir Korea Utara. Program tersebut berada di bawah sanksi internasional.
Selain Bybit, beberapa peretasan besar lainnya juga terjadi tahun ini. Bursa terdesentralisasi Cetus kehilangan sekitar 223 juta dolar AS. Protokol Balancer mengalami kerugian sekitar 128 juta dolar AS. Bursa kripto Phemex juga diretas dengan nilai lebih dari 73 juta dolar AS. Tren ini menunjukkan kejahatan kripto belum melambat. Pada 2024, total kerugian tercatat 2,2 miliar dolar AS. Pada 2023, nilainya sekitar 2 miliar dolar AS. Peningkatan berkelanjutan ini menjadikan keamanan kripto sebagai tantangan utama industri ke depan.





Leave a Reply