manfredodicrescenzo – Microsoft baru saja mengumumkan pembentukan tim riset kecerdasan buatan internal baru yang diberi nama MAI Superintelligence Team. Tim ini dibentuk empat bulan setelah Meta, induk Facebook dan Instagram, meluncurkan unit serupa yang ambisius, Meta Superintelligence Labs. Tim Microsoft ini akan dipimpin oleh CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman. Dengan tujuan utama mengembangkan “Humanist Superintelligence” atau kecerdasan super humanis, tim ini bertujuan menciptakan teknologi AI yang dapat melayani kepentingan manusia dengan tetap menjaga kendali manusia.
“Baca Juga: Korea Selatan Siapkan Anggaran Rp 16 Triliun Latih Talenta AI Sejak SD”
Fokus pada “Humanist Superintelligence” untuk Kepentingan Manusia
Mustafa Suleyman menjelaskan bahwa tujuan utama MAI Superintelligence Team adalah menciptakan teknologi AI yang praktis dan dirancang untuk kepentingan manusia. Ia secara tegas menolak narasi tentang “perlombaan menuju AGI” (Artificial General Intelligence), yang merujuk pada kecerdasan buatan setingkat manusia. Suleyman menekankan bahwa Microsoft tidak berfokus pada pengembangan superintelligence yang kabur dan tidak terarah. Sebaliknya, Microsoft ingin membangun teknologi yang jelas manfaatnya dan dapat meningkatkan kehidupan umat manusia, serta memberikan prospek masa depan yang lebih baik.
Pendekatan Microsoft Dibandingkan dengan Meta dan Pesaing Lain
Suleyman juga membandingkan pendekatannya dengan para pesaing Microsoft dalam perlombaan pengembangan AGI. Ia menyebutkan bahwa Meta, yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg, berkomitmen untuk menciptakan AI yang lebih personal untuk memberdayakan penggunanya, bukan hanya untuk otomatisasi dan efisiensi. Zuckerberg membentuk Meta Superintelligence Labs dengan tujuan memimpin dalam pengembangan AGI. Zuckerberg percaya bahwa teknologi ini akan menjadi awal dari era baru bagi umat manusia. Sementara itu, Microsoft berfokus pada teknologi yang lebih praktis dan langsung bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Perlombaan AGI Melibatkan Perusahaan Besar dan Startup
Selain perusahaan besar seperti Microsoft dan Meta, perlombaan menuju AGI juga diikuti oleh beberapa startup terkemuka. Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Ilya Sutskever, pendiri dan mantan kepala ilmuwan OpenAI. Setelah meninggalkan OpenAI, Sutskever mendirikan laboratorium risetnya sendiri, Safe Superintelligence Inc. (SSI), pada Juni 2024. SSI berfokus pada pengembangan superintelligence yang aman, dengan tujuan memastikan bahwa teknologi ini tidak hanya canggih, tetapi juga aman dan terkendali.
“Baca Juga: Sony Luncurkan Monitor PlayStation 27 Inci 240 Hz untuk Gamers”
Prediksi Kemunculan AGI dan Tantangan Pengembangannya
Perkembangan teknologi AI yang semakin canggih membuka kemungkinan terjadinya AGI dalam waktu dekat. CEO Anthropic, Dario Amodei, memprediksi bahwa teknologi AI yang menyerupai kecerdasan manusia, atau bahkan mencapai AGI, akan muncul pada tahun 2026, jika melihat laju perkembangan yang ada saat ini. Meski demikian, para pengembang teknologi AGI masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal keamanan dan kendali. Dengan berbagai pendekatan yang diambil oleh perusahaan besar dan startup, masa depan AGI akan sangat bergantung pada bagaimana teknologi ini dapat dikembangkan dengan aman dan bermanfaat bagi umat manusia.





Leave a Reply