manfredodicrescenzo – Militer China kembali menjadi sorotan internasional setelah penangkapan dua pemimpin seniornya. Peristiwa ini mempersempit struktur komando tertinggi Tentara Pembebasan Rakyat atau PLA. Banyak analis menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari pembersihan internal. Penangkapan ini memicu kekhawatiran tentang kesinambungan operasional Militer China. Stabilitas pengambilan keputusan strategis juga dipertanyakan. Situasi ini muncul di tengah dinamika geopolitik kawasan yang sensitif. Struktur komando yang melemah dinilai dapat berdampak luas. Moral internal pasukan juga menjadi perhatian para pengamat. Peristiwa ini dinilai bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Dampaknya berpotensi memengaruhi kesiapan militer jangka menengah. Dunia internasional mencermati perkembangan ini dengan serius.
“Baca Juga: Fans Jepang Beri Julukan “Game Otome” untuk AC VI”
Penyusutan Komisi Militer Pusat di Bawah Xi Jinping
Pencopotan terbaru menyasar dua anggota senior Komisi Militer Pusat Tiongkok. Mereka adalah Wakil Ketua Jenderal Zhang Youxia dan perwira senior Liu Zhenli. Akibatnya, jumlah anggota komisi menyusut drastis. Kini Komisi Militer Pusat hanya terdiri dari Ketua Xi Jinping dan Zhang Shengmin. Struktur ini sangat berbeda dari komposisi normal sebelumnya. Biasanya, komisi tersebut beranggotakan sekitar tujuh orang. Penyusutan ini dinilai tidak lazim dalam sistem Militer China. Konsultan risiko politik SinoInsider menilai kondisi ini sangat mengganggu stabilitas kelembagaan. Menurut mereka, ini adalah fase paling sensitif selama kepemimpinan Xi. Penyempitan struktur komando berisiko melemahkan tata kelola militer. Konsentrasi kekuasaan semakin terpusat di tangan ketua.
Hilangnya Pengalaman Tempur dan Risiko Operasional
Analis pertahanan menilai perombakan ini menghilangkan figur berpengalaman dari kepemimpinan militer. Evan Sankey dari Cato Institute menyoroti absennya pengalaman tempur. Ia menyebut anggota tersisa tidak memiliki latar belakang medan perang. Situasi ini dianggap berisiko dalam konteks krisis militer. Kepemimpinan tanpa pengalaman tempur dinilai kurang adaptif. Menurut Sankey, kondisi ini merupakan konsolidasi jangka pendek kekuasaan Xi. Namun, langkah tersebut juga merusak reputasi tata kelola militer. Penilaian itu dilaporkan oleh Nepal Aaja pada Senin, 16 Februari 2026. SinoInsider menambahkan bahwa pemecatan ini mengganggu siklus perencanaan strategis. Restrukturisasi paralel di departemen peralatan memperparah situasi. Kesiapan operasional PLA dikhawatirkan melambat dalam jangka pendek.
Dampak Psikologis dan Ketidakstabilan Internal PLA
Selain dampak struktural, efek psikologis dinilai sama signifikan. Shanshan Mei dari RAND Corporation menilai iklim ketakutan meningkat. Pemecatan berturut-turut memicu perilaku menghindari risiko. Kondisi ini tidak hanya dirasakan di militer. Lembaga pemerintah lain juga terdampak ketidakpastian serupa. Para pejabat menjadi lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan. Zi Yang dari RSIS Singapura menyebut jatuhnya Zhang dan Liu sangat tidak biasa. Salah satu di antaranya dikenal sebagai veteran tempur berprestasi. Skala perombakan ini disamakan dengan pergolakan politik historis. Menurutnya, ketidakstabilan bisa berlanjut hingga 2026. Potensi konflik faksi internal juga dinilai meningkat. Kondisi ini dapat mengganggu kohesi internal PLA.
“Baca Juga: Galaxy Tab A11 Kids Pack Hadir sebagai Tablet Anak”
Risiko Kesalahan Strategis dan Prospek Ke Depan
Mantan ahli strategi Asia Pentagon, Drew Thompson, menyoroti risiko kesalahan penilaian. Ia menilai lingkaran penasihat Xi kini terlalu sempit. Dalam situasi krisis, nasihat militer independen sangat dibutuhkan. Thompson mempertanyakan siapa yang terlibat dalam konsultasi perang. Pengurangan anggota CMC dinilai melemahkan mekanisme checks and balances. Lyle Morris dari Asia Society Policy Institute menilai dampak jangka panjang serius. Menyingkirkan komandan berpengalaman berisiko melemahkan efektivitas tempur. Kontinuitas komando dinilai terganggu secara signifikan. Moral pasukan juga berpotensi tertekan dalam jangka panjang. Mayoritas analis memperkirakan turbulensi belum akan mereda. Perkembangan ini menjadi ujian besar bagi stabilitas militer Tiongkok. Dunia kini menunggu langkah lanjutan dari Beijing.





Leave a Reply